Daratan Tinggi Dieng
Bukan hanya keindahan alam yang masih terjaga dan lestari, Daratan Tinggi Dieng juga memiliki situs sejarah yang terbukti dari banyaknya peninggalan candi-candi Hindu tertua.
Posisi Daratan Tinggi Dieng ini berada pada ketinggian 2.093 mdpl, tak bisa dipungkiri bahwa udara yang ada di Daratan Tinggi ini begitu dingin dan bersih, bahkan di siang hari sekalipun.
bagi kalian anak-anak perkotaan yang jenuh dengan penuhnya peradaban manusia dan menginginkan udara dingin dan bersih yang menyegarkan bisa mampir ke Daratan Tinggi Dieng ini.
Puncak Sikunir
Di puncak sikunir kamu bisa melihat dengan jelas penampakan gunung triplet yaitu gunung Prau, Sindoro, dan Sumbing. Selain pemandangan gunung triplet ini, kita juga bisa menikmati pemandangan awan-awan indah. Julukan Daratan Tinggi Dieng sebagai Negeri di Atas Awan tidak salah karena keindahan gunung tiplet dan awan-awan yang sangat indah .
Selain keindahan gunung triplet dan awan-awan yang menyelimutinya, di Puncak Sikunir juga bisa meilhat sunrise. bagi yang suka foto-foto sunrise bisa datang ke Puncak Sikunir. kenapa di puncak sikunir? karena Puncak Sikunir termasuk salah satu spot terbaik untuk melihat Golden Surise Asia.
Telaga Warna dan Telaga Pengilon
dua danau ini bisa dibedakan melalui warnanya. Telaga Warna berwarna Tosca sedangkan Telaga Pengilon berwarna kecoklatan. Kedua telaga ini terbentuk dari letusan Gunung Dieng Purba yang sudah tidak aktif lagi.
Konon katanya, Telaga Warna menjadi salah satu tempat permandian Dewi Nawang Wulan sekaligus difungsikan sebagai tempat pembentukkan karakter manusia.
Warna air di Telaga Warna melambangkan 5 unsur manusia atau biasa disebut Sedulur Papat Kalima Pancer yang mempunyai arti manusia terlahir dari rahim seorang ibu, dituntut untuk menghormati sang ibu, menghormati Tuhan sebgai Sang Pencipta, dan bermasyarakat menurut ajaran agama.
Sedangkan Telaga Pengilon berarti cermin, berfungsi untuk mengingatkan manusia untuk melihat sisi buruk dan baik dalam menjalani kehidupan.
terdapat Goa Semar di dekat Telaga Pengilon yang berarti Ngguguo Maring Sing Samar yang memiliki pesan bahwa setiap manusia harus mencari kesempurnaan sejati dengan mendekatkan diri kepada sang Pencipta.
Candi Arjuna
Candi Hindu tertua dan terbesar di Daratan Dieng ini menjadi saksi bagi upacara pemotongan rambut gimbal anak-anak Dieng.
Prosesi upacara pemotongan rambut gimbal anak-anak Dieng dilakukan di pelataran Candi Arjuna.
Upacara ini terbuka untuk umum dan biasanya dilakukan pada bulan Agustus atau bulan Sura menurut kalender Jawa.
Cerita Rambut Gimbal yang Misterius
ada hal yang unik dan spesial adalah cerita rambut gimbal itu sendiri. Menurut masyarakat yang ada disana, anak-anak berambut gimbal merupakan keturunan dari seorang putri yang cantik jelita bernama Sinta Dewi. kecantikan putri ini sangat terkenal seantero kerajaan.
Sinta Dewi menerima pinangan Pengeran Kidang Garungan tanpa berjumpa terlebih dahulu dengannya. Ketika bertemu, ternyata rupa Pangeran Kidang Garungan tidak seperti apa yang dibayangkan dan diharapkan Sinta Dewi.
Singkatnya, sesuai tradisi lamaran kerajaan dulu kala, mempelai wanita harus meminta sesuatu dari mempelai pria. Sinta Dewi meminta dibuatkan sebuah sumur dengan alasan kerajaannya sulit untuk mendapatkan air dan sumur harus selesai hanya dalam satu malam saja.
Sang Pengeran pun menerima permintaan tersebut dan mulai menggali sumur untuk sang pujaan hati. Sembari menggali, para pengawal dan dayang sang putri ternyata malah menimbun Pangeran Kidang Garungan dari atas. Sesaat sebelum dia tewas, sang pengeran bersumpah dan mengutuk keturunan Sinta Dewi akan berambut gimbal.
Biasanya, anak-anak Dieng memiliki rambut gimbal hanya sampai umur 6 tahun. Rambut baru busa dipotong bila memang ada permintaan dari mereka. Uniknya lagi,pemotongan rambut gimbal tersebut harus dilakukan dalam sebuah upacara dan bila tidak, anak-anak tersbut akan jatuh sakit.
Setelah rambut gimbal dipotong, rambut anak-anak tersebut akan tumbuh normal seperti biasa.
Kawah Sikidang
perjalan menuju kawah ini tidaklah sulit, kamu hanya perlu berjalan beberapa meter dari tempat kendaraanmu terpakir.
tidak seperti kawah-kawah pada umumnya, Kawah Sikidang ini relatif kecil dan mudah diakses.





Tidak ada komentar:
Posting Komentar